Delite20's Blog

November 22, 2009

Naskah drama natal

Filed under: Rohani — delite20 @ 3:02 pm
Tags: , , , , , , ,

Lampu panggung menyala,musik Lagu-lagu
Natal Elvis Prisley Seorang bapak dengan mengenakan piama duduk mendengarkan lagu-lagu Elvis.

Seorang ibu masuk dengan pakaian bagus habis pergi.

Ibu       :  Alah…alah…bapak ini lho…Lha wong temannya pada sibuk, lha kok malah nglaras…Itu Pak Anton latihan koor, Pak Ngatari jadi panitia natal, lha bapak…nyantai…mbok yo ikut kegiatan apa gitu…
Bapak  :  (berdiri) Eh…bu…bu…sadar (memegang dahi istrinya) Natal itu yang penting disini nih…(memegang dadanya sendiri) Ndak usah rame-rame, pokoke Yesus lahir di hatiku…kalau sudah, aku harus hidup dengan teladan Yesus wis cukup… (duduk lagi dengan memilih CD)
Ibu       :  Memang aneh kok bapak iki…orang yang aneh. Orang lain bersuka cita menyatakan kegembiraan dengan segala daya, bapak… ompong… pong… pong… bengong.
Bapak  :  Lho…kok ngajak tawuran?? Masing-masing orang itu ya punya gaya sendiri-sendiri, style…gitu lho…aku kok disamakan dengan pak Anton, ya jelas beda apalagi Pak Narso, beda banget…bodinya saja lain…nuwun sewu Pak Narso ben rak kuwalat.
Ibu       :  Wis…ben …terserah…susah men dikasih tau.
(Ibu masuk, Bapak meneruskan kegiatan mendengarkan CD)
Bapak  :  Begini kan nyaman, tenteram, di hati enak. Suara Elvis merdu, lagunya sesuai suasana hati yang mau natalan. Ini berkat…ndak usah ditonjol-tonjolken. Wong kalau di gereja khotbah natal juga paling disuruh menolong yang kekurangan… natal itu kok kadang-kadang ngucek-ngucek orang kaya…yang beruntung yang miskin, yang kaya itu salah aja…
(asyik mendengarkan lagu, Seorang nenek tua datang mengetuk pintu).

Nenek  :  permisi anak..
Bapak  :  (menoleh) sebentar, nek, bu…bune…ada yang minta-minta tuh… (kembali sibuk, Ibu keluar)
Ibu       :  Oh, ada tamu.
Bapak  :  Peminta-minta kok tamu.
Nenek  :  Maaf, saya bukan peminta-minta. Tadi saya lewat dengar lagu-lagu natalnya Elvis, saya jadi mampir mau ikut dengar.
Ibu       :  oh…boleh. Silahkan, ibu, silahkan.
Nenek  :  Tidak, disini saja.
Ibu       :  Jangan, silahkan duduk.
(Sambil memelototi bapak yang menatap bengong)

Nenek  :  Tidak usah, anak…
Ibu       :  Tidak apa-apa, tunggu sebentar. (masuk ke dalam)Nenek mencoba ramah pada bapak, tapi bapak pura-pura cuek.
Nenek  :  Saya paling suka lagu White Chistmasnya Elvis, sebenarnya anak saya yang suka.
Bapak  :  (masa bodoh) ooohh…
Ibu keluar membawa minuman.

Ibu       :  monggo, silahkan diminum…
Nenek  :  aden dari tanah jawa ya?
Ibu       :  Iya nek…jangan panggil itu, Sri nama saya.
Nenek  :  Saya dari Sulawesi, nak… Kita orang lari dari tanah kelahiran karena di
sana ada kerusuhan. Dorang
baku bunuh. Jadilah nenek mencari anak nenek yang merantau ke
Bogor, tapi tidak ketemu.
Ibu       :  Puteranya tinggal di mana, Nek?
Nenek  :  Katanya di babakan. Di sini banyak babakan, ada babakan gunung gede, babakan fakultas, pokoknya nenek bingung. Tadi waktu dengar, e…itu lagu Elvis…hati nenek bergetar, ingat natal di kampong. Kita suka manari rock ‘n Roll. (tersenyum sambil menutup mulutnya)
Ibu ikut tersenyum, bapak kelihatan mulai tertarik.

Ibu       : Rock ‘n Roll, nek?

Nenek  : Betul…yang begini (memperagakan) Waktu muda nenek suka sekali.

Bapak  : Ya jelas waktu muda, masa nenek sekarang mau menari rock ‘n roll?

Nenek  : Betul, nak…bisa-bisa patah kaki nenek. Tapi di kampong nenek, meskipun sederhana, kitorang suka badansa, jo…jadi segala musik kita suka.
Ibu       : ceritakan tentang natal di kampung nenek.
Nenek  :  Iyo.. disana semua orang berebut menjadi panitia, kalau tidak paduan suara atau vocal grup.
Ibu       :  Wah beda dong dengan di sini ya.. semua orang berebut menolak menjadi panitia.  Ya to pak?  Apa lagi bapak-bapak, kalau diminta paduan suara, susah…  banget.
Nenek  :  Mungkin kalian belum tahu hakikat Natal….
Bapak  :  Maksud nenek?
Nenek  :  Ya.. natal, itu harus lahir di hati kita, karena Yesus Juru selamat memeberikan tiket gratis untuk kita nonton konser malaikat di Sorga ya
kan?
Ibu       :  Ah, masa menonton konser …
Nenek  :  Betul itu!  Malaikat tiap hari memuji Allah…. Jadi, siapa menjadi anggota paduan suara itu temannya malaikat
kan?  Saat Allah menjadi manusia dan menjadi jembatan bagi kita kembali ke kebenaran Allah….  Hati kita senang.
Bapak  :  Wah ya… yang paling penting hati kita terima Yesus to nek?  Memperbarui komitmen kesetiaan pada Yesus.
Nenek  :  Pintar..  tapi setalah itu apa?
Bapak  :  Yo… mengubah perilaku agar sesuai kehendak Kristus, mengikuti teladan Kristus.
Nenek  :  Bagus, lalu…
Bapak  :  (garuk-garuk kepala)  opo .. yo!
Nenek  :  Coba kalian bayangkan, tempat penampungan air.  Kalau kita isi terus, bagaimana?
Bapak  :  Luber… tumpah.
Nenek  :  Sia-sia
kan? Malah merusak kayu-kayu dan barang-barang disekitarnya, tetapi kalau dari tempat penampungan air itu kita alirkan ke tempat lain, meski kita isi, dia tidak akan tumpah.  Bisa untuk mandi di bak, menyiram tanaman dan lain-lain.
Ibu       :  Aku mengerti …  jadi berkat Tuhan yang harus disalurkan ya nek.
Nenek  :  Iyo… Yesus akhirnya tidak hanya lahir di hatiku, tapi dihatimu, dan di hati semua orang.  Karena tiap orang mau berbagi.  Tidak hanya si kaya memberi si miskin, tapi si miskinpun memberi si kaya dan yang lain-lain.
Ibu       :  Tuh pak… Sukacita natal, harus dibagikan juga.
Nenek  :  Betul, apa yang kalian perbuat untuk Tuhan menjadi panitia, tukang ketik, paduan suara, bahkan hadir di perayaan sudah menjadi berkat, asal kalian tulus melakukan untuk Tuhan.
Ibu       :  Wah kita dapat pelajaran berharga hari ini.  Nenek tinggal di sini aja, sambil mencari anak nenek.  Jadi orang tua buat kami.
Nenek  :  Puji Tuhan …. Tapi apakah tidak  merepotkan?
Ibu       :  Tidak .. yo to pak?  (Bapak tersenyum masam).
Nenek  :  Baiklah Tuhan memberkati kalian.
Ibu       :  Ayo nek… mana tasnya tadi, mbok dibawakan to pak?  Sini saya tunjukkan kamar nenek.
Pemain meninggalkan panggung.

Narator:
Natal!  Biarlah selalu harir di hatiku, di hatimu, di hati setiap orang percaya.  Gloria in exelcis Deo

Sumber:

http://kristono.wordpress.com/drama-bagi-kaum-awam-di-gereja/“kristus-lahir-di-hatiku-dan-di-hatimu”/

Penjual Arem-arem

Filed under: Rohani — delite20 @ 2:49 pm
Tags: , , , , ,

Tak perlu waktu lama untuk mencari bangku kosong dalam bus itu. Mungkin karena bus itu baru saja ’sandar’ di terminal sehingga masih banyak tempat yang tersisa. Saya segera menempatkan diri di sebuah bangku di samping jendela. Pemandangan sepanjang jalan selalu berharga untuk dinikmati. Belum lama saya menyandarkan punggung dan sekedar menikmati bacaan di tangan saya, seisi bus dikejutkan oleh perkelahian yang disusul dengan arem-arem — penganan yang terbuat dari beras berisi sayur atau daging dan dibungkus dengan daun pisang — jatuh bergelindingan tepat di samping saya.

Lakon perkelahian itu ternyata dibintangi oleh dua penjaja makanan yang lazim menawarkan dagangannya pada penumpang bus sebelum kendaraan itu melaju. Beberapa menit sebelumnya, saya sempat sekilas melihat seorang bapak paruh baya menjunjung satu kardus yang penuh sesak dengan arem-arem itu melintas selasar bus dengan tangkas. Saya mengagumi kelincahannya bergerak dalam ruang yang amat terbatas, namun tak tergerak membeli penganan itu. Saya tidak terlalu suka mengkonsumsi nasi yang perlahan berubah manis di lidah sebelum akhirnya terasa masam setelah beberapa lama. Entah kapan, ternyata dari pintu belakang bus, masuk pula pedagang yang menawarkan produk sejenis. Maka, perebutan ‘pasar’ pun terjadi. Bapak yang masuk lewat pintu depan terkesan sabar– tidak sekalipun ia membalas serangan penjual satunya yang nampak berusia lebih muda. Tidak puas dengan kata-katanya, si penjual muda mendorong dagangan si bapak hingga bergelindinganlah dagangannya sebelum keluar begitu saja dari bus. Para penumpang bus yang simpati segera membantu memunguti arem-arem yang berserakan di lantai bus. Ada beberapa yang tergeletak dekat tempat saya duduk. Ketika saya membungkuk untuk meraih penganan itu, saya mendengar bapak itu berujar. Tidak ada yang bertanya ataupun yang berkomentar. Dia hanya bicara begitu saja. Saya menangkap ada getar samar dalam suara itu. Getar yang mencoba meredam kemarahan, kesedihan, atau entah emosi negatif apa. “Mboten nopo-nopo. Gusti Allah sing paring (Tidak mengapa. Tuhan yang memberi [rejeki]),” begitu kira-kira yang ditangkap telinga saya yang tidak fasih berbahasa Jawa. Getar samar di suaranya itu entah mengapa turut menggetarkan hati saya. Arem-arem yang ada di genggaman saya masih terasa hangat –pertanda bahwa mungkin belum banyak dagangan milik si bapak yang laku terjual.

Dengan insiden ini, mungkin pula keuntungan yang akan diterimanya akan berkurang karena beberapa buah arem-arem rusak, dan calon pembeli yang sudah melihat bahwa arem-arem itu sudah sempat menyentuh lantai bisa jadi urung membeli. Namun, Bapak itu tetap percaya bahwa Tuhan mencukupkan meskipun seluruh indikator menunjukkan sebaliknya. Saya menyerahkan arem-arem terakhir yang saya pungut pada Bapak itu. Rasanya hangat. “Matur nuwun (terima kasih),” demikian bapak itu berujar. Kali ini saya sempat memandang matanya. Sekejap, saya mengambil keputusan kilat. Saya menarik kembali arem-arem itu. “Pinten pak? (berapa harganya, Pak?)” “Setunggal ewu (seribu rupiah)” Saya membuka dompet dan mengeluarkan selembar uang seribuan, dan menyerahkan padanya. Saya tergoda untuk membeli beberapa buah lagi, namun khawatir tindakan saya akan menyampaikan pesan yang salah hingga menyinggung perasaannya. “Ibu aku mau yang kaya mbak itu,” seorang anak yang duduk tak jauh dari bangku saya merajuk dan ibu itu pun langsung saja membeli beberapa buah arem-arem. Menyusul beberapa penumpang lain yang ikut membeli. Dalam hitungan menit dagangan si bapak cukup banyak terjual. Si Bapak yang lemah lembut dan tidak membalas lawannya itu akhirnya mendapat upah yang setimpal. Dia benar, Tuhan selalu mampu mencukupkan — apa pun keadaannya. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

November 17, 2009

Efek Game Terhadap Otak

Filed under: Uncategorized — delite20 @ 2:23 pm
Tags: , , ,

DISADARI atau tidak, komputer telah mengubah kehidupan manusia modern dalam kehidupan sehari-hari, termasuk bagaimana menghibur diri sendiri. Komputer juga telah mengubah cara belajar, misalnya dengan game yang bukan sekadar mainan tanpa manfaat. Salah satu video game yang populer adalah Tetris. Sebuah game di mana ubin dengan berbagai bentuk dijatuhkan dan pemain harus menyusunnya sedemikian rupa sehingga sedapat mungkin tidak ada ruang kosong.

PENURUNAN gelombang beta yang besar terjadi jika orang lebih banyak bermain video game. Beberapa studi melaporkan bahwa bermain video game dapat meningkatkan kecepatan detak jantung, tekanan darah, dan konsumsi oksigen cukup signifikan.* DOK.”PR”
Di awal tahun 1990-an Richard Haier, seorang profesor psikologi dari University of California, Amerika Serikat, memantau cerebral glucose metabolic rates di otak pemain Tetris menggunakan PET scanner. Rate glukosa menunjukkan berapa banyak energi yang dikunsumsi oleh otak sehingga secara garis besar memperlihatkan seberapa keras otak bekerja. Haier mengukur level glukosa pemain Tetris pemula ketika sedang ‘sibuk’ mengatur susunan ubin jatuh dalam permainan tersebut. Kemudian level ini diukur kembali beberapa bulan berikutnya untuk pemain yang teratur bermain Tetris. Hasilnya, meski level kesulitan game Tetris bertambah dalam skala 7, level glukosanya malah semakin turun. Artinya, kenaikan kesulitan dalam game melatih pemain secara mental memanipulasi kesulitan mengatur balok-balok Tetris menjadi terasa lebih mudah. Akibatnya, kerja otak menjadi lebih ringan. Jadi, sangat mungkin anak yang kesulitan pelajaran matematika, misalnya, akan menjadi lebih terbiasa dan menganggap mudah, apabila dia sering berlatih game matematika.

Efek negatif
Penelitian efek video game pada otak menjadi demikian populer seiring dengan persentase pemain dari anak-anak maupun orang dewasa yang terus meningkat. Game yang tersedia di pasaran memang bervariasi mulai dari catur yang membutuhkan logika, balap mobil, petualangan, hingga pertempuran senjata dan strategi perang. Selain memberikan efek positif seperti merangsang kerja otak dan refleknya hingga menjadi lebih cerdik, serta meningkatkan koordinasi antara mata dan jari, efek negatif di luar manfaat yang diberikan juga terjadi. Beberapa orang percaya bahwa aksi kekerasan di video game atau media lain bisa mendorong perilaku yang tidak baik juga bagi pemainnya.
Beberapa studi menyimpulkan bahwa orang yang bermain game adegan kekerasan menjadi lebih agresif dan berpeluang untuk melakukan tindak kekerasan, serta berkurangnya perasaan ingin menolong sesama. Akan tetapi, kritikus juga berpendapat bahwa bukan game tersebut yang mengubah perilaku, tetapi memang sejak awal pemain tersebut punya kecenderungan bertindak kasar. Untuk itu, seorang ahli psikologi, Bruce Bartholow dari Universitas Missouri-Columbia, AS, dan koleganya menemukan bahwa orang yang bermain game kekerasan menunjukkan respons otak yang berkurang terhadap gambar kekejaman yang asli seperti pertempuran senjata. Respons otak yang berkurang ini tidak terjadi ketika dihadapkan pada sebuah gambar yang menggugah emosi seperti hewan mati atau anak sakit. Menurutnya, mungkin hal ini berhubungan dengan kecenderungan berkelakukan keras.
Pengamatan unik lainnya juga pernah dilakukan untuk melihat bagaimana efek video game terhadap pemain. Sepasang kakak beradik memainkan sebuah game perlombaan balap mobil. Sama sekali bukan game yang mengandung nilai kekejaman atau kekasaran perilaku. Si adik memenangkan pertandingan ini. Tiba-tiba sang kakak berdiri dan memukul si adik sambil marah-marah. Keesokan harinya si adik bermain sendirian dengan jenis permainan lainnya. Kali ini ia gagal menyelesaikan satu level game. Karena jengkel, ia melempar game controler-nya dan berteriak pada layar TV “Kenapa kamu lakukan ini padaku?”.

Gelombang beta
Lucu memang, video game bisa membuat orang jadi ‘bete’ dan bertindak kasar. Bahkan di sebuah pusat permainan game dengan koin, seseorang yang frustrasi karena gemas dengan kekalahannya memukul mesin game dan tak peduli lagi dengan sikapnya yang sangat memalukan. Apa yang terjadi di otaknya sehingga tindakan seperti itu ia lakukan ketika sedang jengkel hanya karena video game yang cuma kehidupan ‘bohongan’?
Berkaitan dengan hal itu, seorang profesor dari Tokyo’s Nihon University memimpin penelitian dengan mengamati efek video game terhadap aktivitas otak. Dengan 260 responden yang dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing adalah kelompok yang jarang bermain video game, kelompok yang bermain video game 1-3 jam dengan frekuensi 3-4 kali dalam seminggu, dan terakhir kelompok yang bermain 2-7 jam setiap hari. Ia memonitor gelombang beta yang mengindikasikan otak sedang aktif bekerja, kemudian tingkat ketegangan yang terjadi di area prefrontal otak, dan terakhir gelombang alfa yang muncul saat otak sedang beristirahat.
Hasilnya menunjukkan, penurunan gelombang beta yang besar terjadi jika orang lebih banyak bermain video game. Aktivitas gelombang beta pada kelompok yang bermain game 2-7 jam setiap hari hampir mendekati nol, bahkan ketika mereka sedang tidak bermain game. Selain itu, pengamatan ini menunjukkan bahwa mereka banyak menggunakan area prefrontal otaknya. Beberapa responden dari kelompok ini menyampaikan bahwa mereka mudah marah, sulit berkonsentrasi, dan punya persoalan bergaul dengan teman-temannya.
Dua poin pentingnya adalah bahwa penurunan aktivitas gelombang beta dan penggunaan area prefrontal otak bisa jadi berkorelasi terhadap perilaku agresif. Berikutnya, penurunan gelombang beta masih terus terjadi meski sudah berhenti bermain bahkan saat perangkat telah dimatikan, yang artinya efeknya masih bertahan. Jika memang otak dapat dipengaruhi oleh video game sehingga menciptakan perubahan perilaku, apakah itu berarti bahwa otak menganggap game sebagai sesuatu yang riil?

Sikap bijaksana
Ketika sedang di tengah-tengah permainan yang seru, sering kali kita diliputi rasa takut, sungguh-sungguh memberikan perhatian, dan menjadi tegang. Menurut Akio Mori, hal ini bisa membawa efek panjang terhadap saraf refleks yang berkaitan dengan proses bawah sadar seperti bernapas dan kecepatan detak jantung. Kecepatan detak jantung sendiri dapat berubah dengan sinyal elektrik dari pusat emosi di otak atau oleh sinyal dari hormon sebagai pembawa pesan yang bersifat kimiawi. Epinefrin (adrenalin) dan norepinefrin ini dihasilkan dari kelenjar adrenal sebagai respons ketika bahaya datang. Untuk yang satu ini, tentu sering kita alami di saat takut ketemu ular, takut ketinggian, dan ketakutan yang lain.
Beberapa studi melaporkan bahwa bermain video game dapat meningkatkan kecepatan detak jantung, tekanan darah, dan konsumsi oksigen cukup signifikan. Dengan kata lain, jika kecepatan detak jantung yang meningkat terjadi ketika bermain video game, artinya otak merespons video game seolah tubuh betul-betul dalam keadaan terancam.
Dengan segala keterbatasan manusia, kesimpulan dari penelitian-penelitian tersebut belum bisa dikatakan benar secara mutlak. Akan tetapi, tidak ada salahnya dijadikan sebagai salah satu referensi. Apa pun efek yang menyertai ketika seseorang bermain game hendaknya disikapi secara bijaksana. Tidak semua game menampilkan adegan kekerasan dan tidak semua orang peduli secara berlebihan pada kekalahannya saat bermain. Yang justru perlu diwaspadai adalah apabila hobi ini membuat lalai atas kewajiban bekerja, belajar, dan beribadah.
Dian Putri Maharani, S.T.
Alumnus Departemen Teknik Informatika ITB, bekerja sebagai IT consultant, mengelola website www.exipion.com.

Next Page »

Blog at WordPress.com.