Delite20's Blog

January 8, 2010

Cara Download File Berektensi doc

Filed under: FIK UM — delite20 @ 4:59 pm
Tags: , ,

Ini sebuah cara singkat mencari file berektensi doc. Ini hanya khusus untuk google aja loh. . .

Caranya masuk google lalu ketikkan :

judul file:doc

Contoh : modul excel:doc

doc bisa diganti dengan tipe file-file lain juga. . . .

Baca lengkap!UAS Komputer_Andi Priyawan_AA

November 22, 2009

Naskah drama natal

Filed under: Rohani — delite20 @ 3:02 pm
Tags: , , , , , , ,

Lampu panggung menyala,musik Lagu-lagu
Natal Elvis Prisley Seorang bapak dengan mengenakan piama duduk mendengarkan lagu-lagu Elvis.

Seorang ibu masuk dengan pakaian bagus habis pergi.

Ibu       :  Alah…alah…bapak ini lho…Lha wong temannya pada sibuk, lha kok malah nglaras…Itu Pak Anton latihan koor, Pak Ngatari jadi panitia natal, lha bapak…nyantai…mbok yo ikut kegiatan apa gitu…
Bapak  :  (berdiri) Eh…bu…bu…sadar (memegang dahi istrinya) Natal itu yang penting disini nih…(memegang dadanya sendiri) Ndak usah rame-rame, pokoke Yesus lahir di hatiku…kalau sudah, aku harus hidup dengan teladan Yesus wis cukup… (duduk lagi dengan memilih CD)
Ibu       :  Memang aneh kok bapak iki…orang yang aneh. Orang lain bersuka cita menyatakan kegembiraan dengan segala daya, bapak… ompong… pong… pong… bengong.
Bapak  :  Lho…kok ngajak tawuran?? Masing-masing orang itu ya punya gaya sendiri-sendiri, style…gitu lho…aku kok disamakan dengan pak Anton, ya jelas beda apalagi Pak Narso, beda banget…bodinya saja lain…nuwun sewu Pak Narso ben rak kuwalat.
Ibu       :  Wis…ben …terserah…susah men dikasih tau.
(Ibu masuk, Bapak meneruskan kegiatan mendengarkan CD)
Bapak  :  Begini kan nyaman, tenteram, di hati enak. Suara Elvis merdu, lagunya sesuai suasana hati yang mau natalan. Ini berkat…ndak usah ditonjol-tonjolken. Wong kalau di gereja khotbah natal juga paling disuruh menolong yang kekurangan… natal itu kok kadang-kadang ngucek-ngucek orang kaya…yang beruntung yang miskin, yang kaya itu salah aja…
(asyik mendengarkan lagu, Seorang nenek tua datang mengetuk pintu).

Nenek  :  permisi anak..
Bapak  :  (menoleh) sebentar, nek, bu…bune…ada yang minta-minta tuh… (kembali sibuk, Ibu keluar)
Ibu       :  Oh, ada tamu.
Bapak  :  Peminta-minta kok tamu.
Nenek  :  Maaf, saya bukan peminta-minta. Tadi saya lewat dengar lagu-lagu natalnya Elvis, saya jadi mampir mau ikut dengar.
Ibu       :  oh…boleh. Silahkan, ibu, silahkan.
Nenek  :  Tidak, disini saja.
Ibu       :  Jangan, silahkan duduk.
(Sambil memelototi bapak yang menatap bengong)

Nenek  :  Tidak usah, anak…
Ibu       :  Tidak apa-apa, tunggu sebentar. (masuk ke dalam)Nenek mencoba ramah pada bapak, tapi bapak pura-pura cuek.
Nenek  :  Saya paling suka lagu White Chistmasnya Elvis, sebenarnya anak saya yang suka.
Bapak  :  (masa bodoh) ooohh…
Ibu keluar membawa minuman.

Ibu       :  monggo, silahkan diminum…
Nenek  :  aden dari tanah jawa ya?
Ibu       :  Iya nek…jangan panggil itu, Sri nama saya.
Nenek  :  Saya dari Sulawesi, nak… Kita orang lari dari tanah kelahiran karena di
sana ada kerusuhan. Dorang
baku bunuh. Jadilah nenek mencari anak nenek yang merantau ke
Bogor, tapi tidak ketemu.
Ibu       :  Puteranya tinggal di mana, Nek?
Nenek  :  Katanya di babakan. Di sini banyak babakan, ada babakan gunung gede, babakan fakultas, pokoknya nenek bingung. Tadi waktu dengar, e…itu lagu Elvis…hati nenek bergetar, ingat natal di kampong. Kita suka manari rock ‘n Roll. (tersenyum sambil menutup mulutnya)
Ibu ikut tersenyum, bapak kelihatan mulai tertarik.

Ibu       : Rock ‘n Roll, nek?

Nenek  : Betul…yang begini (memperagakan) Waktu muda nenek suka sekali.

Bapak  : Ya jelas waktu muda, masa nenek sekarang mau menari rock ‘n roll?

Nenek  : Betul, nak…bisa-bisa patah kaki nenek. Tapi di kampong nenek, meskipun sederhana, kitorang suka badansa, jo…jadi segala musik kita suka.
Ibu       : ceritakan tentang natal di kampung nenek.
Nenek  :  Iyo.. disana semua orang berebut menjadi panitia, kalau tidak paduan suara atau vocal grup.
Ibu       :  Wah beda dong dengan di sini ya.. semua orang berebut menolak menjadi panitia.  Ya to pak?  Apa lagi bapak-bapak, kalau diminta paduan suara, susah…  banget.
Nenek  :  Mungkin kalian belum tahu hakikat Natal….
Bapak  :  Maksud nenek?
Nenek  :  Ya.. natal, itu harus lahir di hati kita, karena Yesus Juru selamat memeberikan tiket gratis untuk kita nonton konser malaikat di Sorga ya
kan?
Ibu       :  Ah, masa menonton konser …
Nenek  :  Betul itu!  Malaikat tiap hari memuji Allah…. Jadi, siapa menjadi anggota paduan suara itu temannya malaikat
kan?  Saat Allah menjadi manusia dan menjadi jembatan bagi kita kembali ke kebenaran Allah….  Hati kita senang.
Bapak  :  Wah ya… yang paling penting hati kita terima Yesus to nek?  Memperbarui komitmen kesetiaan pada Yesus.
Nenek  :  Pintar..  tapi setalah itu apa?
Bapak  :  Yo… mengubah perilaku agar sesuai kehendak Kristus, mengikuti teladan Kristus.
Nenek  :  Bagus, lalu…
Bapak  :  (garuk-garuk kepala)  opo .. yo!
Nenek  :  Coba kalian bayangkan, tempat penampungan air.  Kalau kita isi terus, bagaimana?
Bapak  :  Luber… tumpah.
Nenek  :  Sia-sia
kan? Malah merusak kayu-kayu dan barang-barang disekitarnya, tetapi kalau dari tempat penampungan air itu kita alirkan ke tempat lain, meski kita isi, dia tidak akan tumpah.  Bisa untuk mandi di bak, menyiram tanaman dan lain-lain.
Ibu       :  Aku mengerti …  jadi berkat Tuhan yang harus disalurkan ya nek.
Nenek  :  Iyo… Yesus akhirnya tidak hanya lahir di hatiku, tapi dihatimu, dan di hati semua orang.  Karena tiap orang mau berbagi.  Tidak hanya si kaya memberi si miskin, tapi si miskinpun memberi si kaya dan yang lain-lain.
Ibu       :  Tuh pak… Sukacita natal, harus dibagikan juga.
Nenek  :  Betul, apa yang kalian perbuat untuk Tuhan menjadi panitia, tukang ketik, paduan suara, bahkan hadir di perayaan sudah menjadi berkat, asal kalian tulus melakukan untuk Tuhan.
Ibu       :  Wah kita dapat pelajaran berharga hari ini.  Nenek tinggal di sini aja, sambil mencari anak nenek.  Jadi orang tua buat kami.
Nenek  :  Puji Tuhan …. Tapi apakah tidak  merepotkan?
Ibu       :  Tidak .. yo to pak?  (Bapak tersenyum masam).
Nenek  :  Baiklah Tuhan memberkati kalian.
Ibu       :  Ayo nek… mana tasnya tadi, mbok dibawakan to pak?  Sini saya tunjukkan kamar nenek.
Pemain meninggalkan panggung.

Narator:
Natal!  Biarlah selalu harir di hatiku, di hatimu, di hati setiap orang percaya.  Gloria in exelcis Deo

Sumber:

http://kristono.wordpress.com/drama-bagi-kaum-awam-di-gereja/“kristus-lahir-di-hatiku-dan-di-hatimu”/

Penjual Arem-arem

Filed under: Rohani — delite20 @ 2:49 pm
Tags: , , , , ,

Tak perlu waktu lama untuk mencari bangku kosong dalam bus itu. Mungkin karena bus itu baru saja ’sandar’ di terminal sehingga masih banyak tempat yang tersisa. Saya segera menempatkan diri di sebuah bangku di samping jendela. Pemandangan sepanjang jalan selalu berharga untuk dinikmati. Belum lama saya menyandarkan punggung dan sekedar menikmati bacaan di tangan saya, seisi bus dikejutkan oleh perkelahian yang disusul dengan arem-arem — penganan yang terbuat dari beras berisi sayur atau daging dan dibungkus dengan daun pisang — jatuh bergelindingan tepat di samping saya.

Lakon perkelahian itu ternyata dibintangi oleh dua penjaja makanan yang lazim menawarkan dagangannya pada penumpang bus sebelum kendaraan itu melaju. Beberapa menit sebelumnya, saya sempat sekilas melihat seorang bapak paruh baya menjunjung satu kardus yang penuh sesak dengan arem-arem itu melintas selasar bus dengan tangkas. Saya mengagumi kelincahannya bergerak dalam ruang yang amat terbatas, namun tak tergerak membeli penganan itu. Saya tidak terlalu suka mengkonsumsi nasi yang perlahan berubah manis di lidah sebelum akhirnya terasa masam setelah beberapa lama. Entah kapan, ternyata dari pintu belakang bus, masuk pula pedagang yang menawarkan produk sejenis. Maka, perebutan ‘pasar’ pun terjadi. Bapak yang masuk lewat pintu depan terkesan sabar– tidak sekalipun ia membalas serangan penjual satunya yang nampak berusia lebih muda. Tidak puas dengan kata-katanya, si penjual muda mendorong dagangan si bapak hingga bergelindinganlah dagangannya sebelum keluar begitu saja dari bus. Para penumpang bus yang simpati segera membantu memunguti arem-arem yang berserakan di lantai bus. Ada beberapa yang tergeletak dekat tempat saya duduk. Ketika saya membungkuk untuk meraih penganan itu, saya mendengar bapak itu berujar. Tidak ada yang bertanya ataupun yang berkomentar. Dia hanya bicara begitu saja. Saya menangkap ada getar samar dalam suara itu. Getar yang mencoba meredam kemarahan, kesedihan, atau entah emosi negatif apa. “Mboten nopo-nopo. Gusti Allah sing paring (Tidak mengapa. Tuhan yang memberi [rejeki]),” begitu kira-kira yang ditangkap telinga saya yang tidak fasih berbahasa Jawa. Getar samar di suaranya itu entah mengapa turut menggetarkan hati saya. Arem-arem yang ada di genggaman saya masih terasa hangat –pertanda bahwa mungkin belum banyak dagangan milik si bapak yang laku terjual.

Dengan insiden ini, mungkin pula keuntungan yang akan diterimanya akan berkurang karena beberapa buah arem-arem rusak, dan calon pembeli yang sudah melihat bahwa arem-arem itu sudah sempat menyentuh lantai bisa jadi urung membeli. Namun, Bapak itu tetap percaya bahwa Tuhan mencukupkan meskipun seluruh indikator menunjukkan sebaliknya. Saya menyerahkan arem-arem terakhir yang saya pungut pada Bapak itu. Rasanya hangat. “Matur nuwun (terima kasih),” demikian bapak itu berujar. Kali ini saya sempat memandang matanya. Sekejap, saya mengambil keputusan kilat. Saya menarik kembali arem-arem itu. “Pinten pak? (berapa harganya, Pak?)” “Setunggal ewu (seribu rupiah)” Saya membuka dompet dan mengeluarkan selembar uang seribuan, dan menyerahkan padanya. Saya tergoda untuk membeli beberapa buah lagi, namun khawatir tindakan saya akan menyampaikan pesan yang salah hingga menyinggung perasaannya. “Ibu aku mau yang kaya mbak itu,” seorang anak yang duduk tak jauh dari bangku saya merajuk dan ibu itu pun langsung saja membeli beberapa buah arem-arem. Menyusul beberapa penumpang lain yang ikut membeli. Dalam hitungan menit dagangan si bapak cukup banyak terjual. Si Bapak yang lemah lembut dan tidak membalas lawannya itu akhirnya mendapat upah yang setimpal. Dia benar, Tuhan selalu mampu mencukupkan — apa pun keadaannya. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Next Page »

Blog at WordPress.com.