Delite20's Blog

November 5, 2009

Fisiologi

Filed under: FIK UM — delite20 @ 2:10 pm

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Manusia dalam menjalani kehidupan sehari-hari membutuhkan olahraga. Diharapkan dengan berolahraga kita mempunyai tubuh yang bugar dan sehat. Sehingga kita dapat beraktifitas dengan baik.

Pada dasarnya, olahraga tidak sekedar menggerakkan anggota tubuh, tetapi segala bentuk kegiatan olahraga ini mempunyai fungsi masing-masing. Misalnya, seorang yang ingin melatih kekuatan tangannya tidak mungkin juga akan melatih kesepuluh jarinya karena dianggap tidak efisien waktu. Jadi suatu gerakan pastilah mempunyai tujuan tertentu. Tujuan tersebut akan tercapai apabila gerakan tersebut dilakukan dengan benar dan tepat. Maka dari itu, penting sekali untuk mempelajari apa itu fisiologi olahraga.

Dalam pembahasan ini akan dijelaskan terlebih dahulu tentang Hakekat Fisiologi, yang kemudian disebutkan beberapa kontribusi ilmu Fisiologi untuk olahraga. Terdapat beberapa sistem yang dijelaskan dalam kontribusi ilmu, termasuk sistem kerja otot juga sistem pernafasan.

Dengan mempelajari dan memahami fisiologi olahraga kita dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, utamanya bagi mahasiswa yang mempunyai cita-cita atau keinginan untuk menjadi guru atau pelatih olahraga, sehingga dalam membina dan melatih anak didiknya, ia tidak sembarangan memberikan pelatihan. Sedangkan bagi atlet diharapkan tahu akan manfaat latihan mereka, sehingga mereka dapat meningkatkan kemampuan organ tubuh yang digunakan mereka dalam bertanding maupun berlomba.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah fisiologi itu ?

2. Apa saja kontribusi yang diberikan ilmu fisiologi pada olahraga ?

 

 

C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui hakikat fisiologi.

2. Untuk mengetahui kontribusi yang diberikan ilmu fisiologi pada olahraga.

BAB II

HAKEKAT FISIOLOGI OLAHRAGA

 

Akhir-akhir ini kita lihat terjadi peningkatan yang dramatis, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, dalam partisipasi masyarakat terhadap kegiatan olahraga, baik olahraga yang bersifat rekreatif, olahraga yang bersifat sekedar untuk memelihara kesegaran jasmani, maupun olahraga yang dipertandingkan. Munculnya pusat-pusat kesegaran jasmani, sanggar-sanggar senam menunjukkan kepada kita, bahwa kesadaran masyarakat terhadap betapa pentingnya olahraga bagi kesehatan sudah mulai tinggi. Tentu tidak semua mereka dapat melakukan olahraga secara teratur dan berkelanjutan. Namun daripada tidak melakukan sama sekali, dua kali dalam seminggu dapat dianggap cukup untuk memelihara kesegaran jasmaninya.

 

  1. A. Pengertian Fisiologi

Fisiologi, dari kata Yunani physis = ‘alam’ dan logos = ‘cerita’, adalah ilmu yang mempelajari fungsi mekanik, fisik, dan biokimia dari makhluk hidup. Fisiologi dibagi menjadi fisiologi tumbuhan dan fisiologi hewan tetapi prinsip dari fisiologi bersifat universal, tidak bergantung pada jenis organisme yang dipelajari. Misalnya, apa yang dipelajari pada fisiologi sel khamir dapat pula diterapkan pada sel manusia. Fisiologi hewan bermula dari metode dan peralatan yang digunakan dalam pembelajaran fisiologi manusia yang kemudian meluas pada spesies hewan selain manusia. Fisiologi tumbuhan banyak menggunakan teknik dari kedua bidang ini. Cakupan subjek dari fisiologi hewan adalah semua makhluk hidup. Banyaknya subjek menyebabkan penelitian di bidang fisiologi hewan lebih terkonsentrasi pada pemahaman bagaimana ciri fisiologis berubah sepanjang sejarah evolusi hewan. Cabang ilmu lain yang berkembang dari fisiologi adalah biokimia, biofisika, biomekanik, and farmakologi.

Fisiologi, adalah ilmu yang mempelajari fungsi organisme tubuh secara keseluruhan dan bagian-bagiannya (deVries, A.H.1986) sedangkan Fisiologi Olahraga adalah bagian atau cabang dari Fisiologi yang khusus mempelajari perubahan fungsi yang disebabkan oleh latihan fisik. Di dalam fisiologi olahraga ini, kita mempelajari apa yang terjadi terhadap fungsi tubuh apabila seseorang melakukan latihan tunggal, dan bagaimana perubahan fungsi itu dapat terjadi. Kemudian perubahan apa yang terjadi pada fungsi tubuh itu berlangsung. Juga, apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan respon dan adaptasi  tubuh terhadap latihan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam waktu tertentu.

Fisiologi Olahraga menurut George A Brooks dan Thomas D Fathey(1984) adalah cabang dari fisiologi yang berhubungan dengan latihan, adanya respon fisiologis tertentu terhadap latihan yang tergantung pada intensitas latihan, durasi (lamanya)latihan, frekuensi latihan, keadaan lingkungan keadaan lingkungan dan status fisiologis individu.

Sedangkan menurut David R. Lamb, (1984), fisiologi olahraga adalah pemberian dan penjelasan tentang perubahan fungsi yang dihasilkan oleh latihan tunggal (acute exercise) atau latihan yang dilakukan secara berulang-ulang  (chronic exercise), biasanya bertujuan untuk meningkatkan respon latihan.

Definisi ini menjelaskan perubahan-perubahan fungsi yang berhubungan dengan apa yang terjadi di dalam tubuh, dan menerangkan mengapa perubahan-perubahan itu terjadi. Misalnya kalau kita mengangkat beban yang berat dengan berulang-ulang maka biasanya kemampuan mengangkat beban akan meningkat sehingga kelak beban yang lebih beratpun dapat diangkat. Perubahan fungsi ini diisebabkan oleh ulangan-ulangan yang dilakukan, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan jaringan otot. Jadi diperlukan adanya protein yang lebih banyak  untuk mengerahkan tenaga kontraktail dan sebagian lagi dipergunakan untuk meningkatkan kemampuan sistem pensyarafan. Hal ini akan dapat menyebabkan lebih banyak serabut otot yang berkontraksi untuk mengerahkan kontraksi otot yang sebesar-besarnya. Kalau seseorang sudah mengetahui bagaimana caranya meningkatkan kemampuan mengangkat beban, maka mudah baginya untuk membuat program latihan yang lebih baik.

Pengetahuan dasar tentang apa yang terjadi selama latihan fisik dan bagaimana perubahan itu dapat terjadi, sangat penting dimiliki oleh mahasiswa maupun mereka yang mempunyai profesi sebagai pelatih, pembina, guru olahraga dan atlet. Banyak ilmuwan yang menyelidiki respon tubuh terhadap latihan fisik yang dilakukan. Diantaranya menyimpulkan bahwa latihan fisik yang dilakukan secara teratur dapat meningkatkan kapasitas kerja fisik, meningkatkan efisiensi kerja dan bahkan dapat menciptakan rekor baru dalam kegiatan olahraga. Fisiologi olahraga sangat memegang peranan didalam meningkatkan kesegaran jasmani atlet.

 

B. Aspek-aspek Mekanisme dalam Fisiologi Olahraga.

Dengan adanya perubahan-perubahan fungsi tubuh yang terjadi karena latihan fisik yang dilakukan itu maka kita ingin mengetahui mekanisme yang mendasari terjadinya respon dan adaptasi  secara siologis seperti hukum-hukum fisika dan kimia yang ikut terlibat didalam perubahan fungsi. Keinginan untuk mengetahui mekanisme yang mendasari respon tuibuh terhadap latihan harus diikuti dengan kepercayaan bahwa mengetajui secara terinci bagaimana  respon itu dapat diramalkan dan dikendalikan dengan lebih baik serta lebih efisien, adalah penting.

Misalnya kita ingin menguji hubungan antara latihan daya tahan yang dilakukan secara reguler (jogging, bersepeda, berenang,dan sebagainya) dengan kemungkinan menderita sakit jantung lebih dini. Kebanyakan pengujian membandingkan antara kelompok yang mempunyai kemungkinan sakit jantung tetapi melakukan latihan fisik secara reguler.dengan kelompok yang mempunyai kemungkinan sakit jantung lebih dini. Oleh karena perubahan didalam fungsi tubuh terjadi sebagai hasil latihan yang dilakukan secara reguler,maka jantung lebih tahan terhadap penyakit. Kemudian pernyataan yang sering timbul: ”Bagaimana hal ini dapat mencegah penyakit jantung?”atau pertanyaan lainya ”bagaimana latihan daya tahan yang dilakukan setiap hari memungkinkan jantung lebih tahan.terhadap penyakit pembuluh koroner?” Latihan yang dilakukan secara teratur mempunyai pengaruh langsung terhadap peningkatan suplai darah ke jantung sendiri. Disamping itu, latihan sangat bermanfaat karena dapat memperlambat pembekuan darah, atau karena dapat memperlambat pembekuan darah dalam pembuluh darah vena,juga dapat menurunkan berat badan seseorang.

Akhir-akhir ini para peneliti telah dapat menentukan mekanisme yang mendasari efek latihan terhadap pencegahan penyakit jantung dan mengurangi resiko menderita penyakit koroner, sehingga dapat dengan mudah untuk menjelaskan secara pasti jenis dan beban latihan yang benar. Juga dapat lebih mudah untuk memantau efek latihan,dan kemungkinan juga dapat menentukan dengan pasti tempat yang secara kimiawi kurang berfungsi. Jadi dengan demikian tindakan pencegahan penyakit jantung dapat diambil dengan demikian tindakan pencegahan penyakit jantung dapat segera diambil dengan melakukan diet yang ketat, pengobatan, pembedahan, atau penyembuhan dengan penyinaran. Walaupun semuanya itu tidak benar, tetapi dengan mengetahui dan mengert bagaimana respon itu bekerja terhadap fungsi tubuh ,dapat mempermudah untuk meramalkan, mencegah, menyembuhkan, bahkan sangat mungkin untuk dapat meningkatkan kesehatan. Begitu juga dengan mengetahui adanya respon tubuh karena latihan olahraga, maka bagi penderita penyakit jantung pun latihan olahraga dapat diberikan sebagai latihan penyembuhan. Selain itu juga dapat dipergunakan sebagai program kondisioning bagi para atlet, serta dapat digunakan untuk segala keperluan.

Namun pertanyaan yang masih sering timbul, ialah mengapa dan untuk tujuan apa khususnya respon fisiologis karena latihan olahraga itu terjadi? Sebagai contoh seseorang dapat mengatakan bahwa, jantung berdenyut lebih cepat pada saat kegiataan fisik sedang berlangsung. Hal ini terjadi karena jantung harus memompa darah dalam jumlah yang lebih banyak ke otot yang sedang bekerja atau juga karena kulit membutuhkan darah dalam jumlah yang lebih banyak untuk membantu menghilangkan panas tubuh yang berlebihan. Atau karena tekanan darah akan menjadi sangat rendah sekali apabila denyut jantung tidak dipercepat atau masih banyak lagi alasan yang kesemuanya itu masuk akal. Studi tentang tujuan sebagai dasar dari suatu kejadian di dalam alam dinamakan Teleolgy. Penjelasan secara teleologis tentang respon latihan banyak membantu kita untuk selalu mengingat apa dan bagaimana sesuatu hal terjadi. Misalnya pemahaman yang cukup luas tentang  perubahan denyut jantung sebagai respon terhadap laithan yang dilakukan, tidak cukup hanya dengan menyatakan bahwa denyut jantung itu bertambah cepat demi menyediakan darah lebih banyak untuk otot yang sedang bekerja. Seseorang yang benar-benar mengerti tentang respon dimana rangsangan itu mulai dan mengetahui reaksi syaraf atau hormon yang terletak antara rangsangan awal yang akan mempercepat denyut jantung. Oleh karena itu, akan lebih baik apabila kita mengetahui bagaimana hal itu terjadi daripada kalau kita hanya tahu mengapa hal itu terjadi dalam fisiologi olahraga.

Masalah lainnya yang mencoba untuk menentukan mengapa respon fisiologis terjadi karena latihan yang dilakukan. Biasanya tidak mungkin untuk menentukan secara obyektif apakah tujuan yang telah kita tentukan itu benar. Kita tidak tahu secara pasti, misalnya, apakah tujuan dari menurunnya kadar gula darah sebagai akibat dari latihan yang dilakukan dalam masa latihan (session) yang lama, adalah untuk memberi isyarat kepada tubuh untuk istirahat atau memberi kesempatan kepada tubuh untuk mempergunakan lebih banyak lemak untuk energi. Bukan tidak mungkin bahwa menurunnya kadar gula darah itu tidak mempunyai tujuan, melainkan merupakan kejadian yang alamiah sebagai akibat dari penguasaan simpanan gula di hati yang disebabkan oleh semakin meningkatnya beban latihan.

 

C. Hubungan antara Kesegaran Jasmani dan Fisiologi Olahraga

Ada hubungan yang erat sekali antara fisiologi olahraga dengan kesegaran jasmani. Menurut The President’s Council on Physical Fitness and Sports yang dikutip oleh Charles T.Kuntzleman and The Editors of Consumer Guide, 1978: “Kesegaran Jasmani adalah kemampuan untuk melaksanakan tugas sehari-hari dengan giat dan dengan penuh kewaspadaan, tanpa mengalami kelelahan yang berarti, dan dengan energi yang cukup untuk menikmati waktu senggangnya dan menghadapi hal-hal yang darurat yang tak terduga sebelumnya.

Sesuai dengan definisi tersebut, maka kesegaran jasmani yang diperlukan oleh masing-masing individu sangat berbeda dan bervariasi, tergantung pada sifat tantangan fisik yang dihadapinya. Misalnya untuk mengetahui kesegaran jasmani yang dibutuhkan oleh dua orang dengan kegiatan yang berbeda. Misalkan Si Ali seorang pemain sepakbola Galatama dengan menempati posisi full back, sedangkan Si Kardi sebagai pustakawan di perpustakaan suatu perguruan tinggi. Pertanyaannya, apakah kedua orang tersebut memerlukan kesegaran jasmani yang sama? Kita perhatikan dulu, apakah kira-kira tantangan sehari-hari secara fisik yang dihadapi oleh mereka itu sama? Mari kita perhatikan dengan seksama. Si Ali harus menghadapi tantangan yang sangat melelahkan sebagai seorang pemian sepakbola galatama, karena dia harus berlatih secara reguler unbtuk meningkatkan dan mempertahankan kekuatan otot, kelenturan, anaerobik power, dan daya tahan kardiovaskulernya. Sedangkan Si Kardi di lain pihak, kegiatannya hanya banyak duduk dan memerlukan sedikit kekuatan otot untuk mengangkat dan memindahkan buku-buku dari rak buku yang satu ke rak buku yang lain di dalam perpustakaan. Oleh karena itu tingkat kesegaran jasmani yang mereka butuhkan juga sangat berbeda.

Untuk meningkatkan kesegaran Jasmani memerlukan kesiapan fisik untuk melakukan segala macam kegiatan, walaupun kegiatan yang dilakukan itu sifatnya ringan, misalnya mencangkul, senam-senam, atau jogging. Seperti telah dikatakan sebelumnya, bahwa fisiologi olahraga adalah mempelajari respon tubuh terhadap latihan tunggal dan latihan berulang-ulang dalam session latihan, sehingga pengetahuan ini dapat dipergunakan untuk meningkatkan kesegaran jasmani. Dengan kata lain peningkatan olahraga untuk meningkatkan kapasitas seseorang dalam menghadapi tantangan fisik demi keberhasilan di dalam perjuangan hidupnya.

 

D. Kesegaran Jasmani untuk Pertandingan dan Rehabilitasi

Olahraga yang dipertandingkan mengaharuskan peserta untuk menghadapi tantangan fisik dan mental yang bervariasi, kalau ingin mendapat kemenangan yang memuaskan. Pencapaian kondisi fisik yang baik untuk mengahadapi suatu kejuaraan yang terutama sekali adalah menigkatkan kesegaran jasmaninya. Manfred Scholich,(1986) mengatakan, bahwa kesegaran jasmani secara keseluruhan merupakan persyaratan untuk efektivitas dan optimalisasi di dalam mengembangakan kesiapan betanding, dan di lain pihak, peningkatan (melaui latihan) di dalam kesiapan bertanding mempunyai pengaruh yang positif terhadap kesegaran jasmani secara keseluruhan.

Pengembangan kesegaran jasmani secara keseluruhan dan kesiapan bertanding yang dilakukan, merupakan proses pengalaman manusia seutuhnya (dalam hal ini atlet) dan oleh karena itu ditentukan oleh kepribadiannya sendiri. Dengan kata lain, pengembangan kesegaran jasmani dan kesiapan bertanding berpengaruh terhadap kepribadiannya, dan pengembangan kepribadian itu selalu terpantul dalam peningkatan kesiapan bertanding yang dilakukan secara terus menerus.

Apabila kesegaran jasmani secara keseluruhan telah dicapai, maka peningkatan masing-masing komponen kesegaran dinamik dapat lebih mudah dilakukan dan disesuaikan dengan cabang olahraga yang diikutinya. Contoh seseorang di dalam menghadapi kejuaraan bola voli, persiapan fisik di dalam meningkatkan daya ledak (power) otot tungkai, kelenturan yang optimal dan daya tahan anaerobik merupakan persyaratan yang harus dipenuhi. Keberhasilan di dalam mengikuti lomba lari jarak jauh, yang terutama sekali harus dikembangakan adalah daya tahan aerobik(daya tahan kardiorespiratori). Pada setiap cabang olahraga yang dipertandingkan, apakah bola voli, lari jarak jauh, dan sebagainya, memiliki aspek-aspek atau komponen-komponen khusus yang harus dipersiapkan dengan meningkatkan masing-masing komponen sesuai dengan cabang olahraga yang diikutinya. Oleh karena itu prinsip-prinsip fisiologi sangat memegang peranan di dalam meningkatkan kesegaran jasmani atlet.

Pentingnya fisiologi olahraga tidak hanya untuk meningkatkan kesegaran jasmani bagi kebanyakan orang demi kesehatannya ataupun untuk atlet, tetapi juga sangat berguna bagi mereka yang menjalani pengobatan/perawatan karena gangguan kesehatan yang disebabkan oleh suatu penyakit, kecelakaan atau karena melahirkan. Oleh karena itu, pengetahuan tentang prinsip-prinsip fisiologi olahraga adalah sangat penting untuk meningkatkan kesegaran jasmani bagi mereka yang baru sembuh dari meningkatkan kesegaran jasmani bagi mereka yang baru sembuh dari serangan penyakit jantung, penderita kencing manis, atau bagi mereka yang baru sembuh karena patah tulang maupun mereka-mereka yang memiliki gangguan fisik dan mencoba untuk mengembangkan kapasitas fisiknya demi perjuangan hidupnya.

BAB III

KONTRIBUSI ILMU FISIOLOGI UNTUK OLAHRAGA

Ilmu Fisiologi sangat erat hubungannya dengan olahraga. Karena dalam pengolahan gerak maupun sistem kerja suatu organ tubuh sangat mempengaruhi kegiatan sehari-hari seseorang dalam beraktivitas.

 

  1. A. Sistem Gerak Otot

Mengerti akan fisiologi, struktur dan sistem gerak otot rangka merupakan dasar untuk mengerti lebih lanjut tentang bagaimana tubuh dapat menyesuaikan terhadap latihan fisik.

Otot-otot tubuh merupakan alat, energi yang tersimpan secara kimiawi diubah menjadi pekerjaan mekanik. Dalam hubungan ini jumlah pekerjaan mekanik yang dilakukan itu menentukan berapa jumlah energi yang harus dirubah dari yang tersimpan secara kimiawi. Di dalam suatu sistem tertutup seperti suatu otot yang berkontraksi, perubahan-perubahan kimia di satu pihak dan pekerjaan serta panas yang dihasilkanya di pihak lain harus seimbang. Hasil-hasil penelitian menunjukkan, bahwa lebih banyak panas yang dihasilkan dari pada yang diakibatkan oleh proses-proses kimiawi yang kita kenal.

Latihhan olahraga sangat penting bagi otot-otot rangka dengan alasan-alasan berikut:

1)      Tanpa kontraksi otot tentu saja tidak akan terjadi suatu gerakan.

2)   Suatu gerakan dapat berlangsung secara kontinyu dalam  waktu tertentu, tergantung pada tingkatan usaha dan besarnya kelelahan otot.

3)   Karena otot-otot rangka mengkonsumsi sebagian besar oksigen dan membutuhkan terbanyak darah selama latihan berat, maka fungsi dari bagian-bagian tubuh lainya, seperti hati, ginjal, pencernaan dan lain jaringan dipengaruhi oleh apa yang terjadi di dalam otot rangka.

Otot-otot rangka atau otot yang dikendalikan oleh kehendak kita dinamakan juga otot bergaris, oleh karena mereka terdiri dari serabut-serabut yang panjang yang menyerupai benang. Didalam tubuh manusia, diperkirakan terdapat 270 juta serabut-serabut otot bergaris (Gary A. Thibodeau,1987). Mereka mendapat pensyarafan dari syaraf-syaraf kranial atau spinal, dan dikontrol secara sadar. Fungsi utamanya adalah untuk gerakan-gerakan tubuh dan untuk mempertahankan sikap tubuh.

Otot rangka terdiri dari 70%air ,20%protein dan sisanya yang 5% terdiri dari garam inorganik dan zat-zat lainnya  termasuk fosfat berenergi tinggi, urea, asam laktat, mineral-mineral seperti kalsium, magnesium, dan pospor, bermacam macam enzim dan pigmen, ion-ion sodium, potassium, khlorida, asam amino, lemak, dan karbohidrat.

Selama melakukan latihan berat terjadi peningkatan konsumsi oksigen pada otot sebanyak 70 kali lipat, jika dibandingkan dengan waktu istirahat (W.D. McArdle, 1986) dan otot memerlukan darah sebanyak 100 kali lipat jika dibandingkan dengan waktu istirahat (Fox, dkk. 1989). Jadi sekitar 11 ml per 100 gr otot per menit atau keseluruhan menjadi 3400 ml per menit. Untuk mengakut oksigen sebanyak yang diperlukan oleh otot yang sedang bekerja, maka pembuluh darah lokal harus menyalurkan darah dalam jumlah besar ke jaringan yang aktif. Pada olahraga siklik (berirama) seperti lari, berenang aliran darah naik-turun; aliran darah menurun/berkurang selama fase berkontraksi, dan aliran darah meningkat pada fase relaksasi. Oleh karena itu, pada saat melakukan latihan yang berat, lebih dari 4000 pembuluh darah kapiler mengalirkan darah untuk setiap milimeter persegi otot.                          Faktor yang menyebabkan meningkatnya kapasitas latihan adalah karena meningkatnya jumlah kapiler pada otot yang terlatih. Semua fungsi ini dapat ditingkatkan oleh semakin padatnya pembuluh darah kapiler di dalam otot. Beberapa penelitian menunjukan keuntungan-keuntungan yang diperoleh dari latihan daya tahan terhadap kapilarisasi otot rangka. William D. McArdle, dkk (1986) mengatakan bahwa dengan mempergunakan mikroskop elektron, jumlah kapiler (per milimeter persegi otot) rata-rata 40% lebih banyak pada atlet dayatahan jika dibandingakan dengan orang yang tidak terlatih. Sedangkan pebedaan konsumsi oksigen maksimalnya (VO2max) sebesar 41% pada kelompok yang sama. Selanjutnya dikatakan pula bahwa kapiler otot rangka dapat meningkat dengan mudah, dan peningkatan ini berhubungan erat dengan tingkatan aktivitas otot. Juga adanya hubungan yang sangat positif antara konsumsi oksigen maksimal dengan jumlah rata-rata kapiler otot baik pada laki-laki maupun pada perempuan.

Tipe Serabut Otot

Beberapa tahun yang lalu, para ahli anatomi dan ahli histologi mengklasifikasikan otot menjadi dua macam, yaitu otot merah dan otot putih sesuai dengan warna yang dominan / terkandung dalam serabut otot. Berdasarkan pengklasifikasian ini, maka serabut otot merah lebih cocok / sesuai untuk kegiatan yang berlangsung dalam waktu yang lama, kontraksi yang lambat, untuk menyanggah postural, pekerjaan-pekerjaan otot untuk melawan gaya tarik bumi. Sedangkan otot putih sangat sesuai dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat cepat dan karena itu sangat banyak ditemukan pada otot-otot flexor ( untuk menekuk ).                         Namun belakangan ini, dengan mepergunakan alat-alat modern di bidang histokimia, pengujian unsur-unsur ( pokok ) kimia pada seluler memungkinkan penyediaan alat-alat yang berhubungan dengan aktivitas fungsional serbut otot menurut bentuknya sehingga dapat membantu kita untuk mengerti, mengapa seseorang digolongkan sebagai tipe altet dayatahan, sedangkan yang lain digolongkan sebagai atlet yang mengutamakan kecepatan dan kekuatan ( POWER ).                  Gollnick, P.D, dkk ( 1972 ) mengatakan bahwa sebutan dan pembagian jenis serabut otot bermacam-macam. Misalnya tipe otot untuk atlet dayatahan disebut juga tipe aerobik, tipe I, merah, tonik, slow-twitch ( ST ), atau slow-oxidative. Sedangkan tipe otot untuk atlet yang mengutamakan kecepatan dan kekuatan ( POWER ) disebut juga tipe anaerobik, tipe II, putih, fasik, fast-twitch ( FT ), atau fast-glycolytic ( FG ).              Kemudian lebih lanjut Jansson, E, dkk ( 1977 ) dan Staron, R.S, dkk ( 1984 ) membagi serabut otot FT menjadi Fta ( IIA, fast-oxidative-glycolytic, FOG ), FTb ( IIB, fast-glycolytic, FG )dan FTc ( IIC, intermedia ). Dari hasil pengolongan ini, sangat penting untuk dibahas lebih lanjut tentang kegunaan atau fungsi masing-masing jensi serabut otot tersebut dan jenis FTc tidak perlu banyak dibahas karena presentase dari jenis ini biasanya hanya berkisar antara 0 – 2% dan tidak lebih dari 5% dari populasi keseluruhan otot manusia ( Staron, R.S, dkk, 1984 ). Yang paling penting dari segi fisiologi olahraga, bahwa masing-masing tipe serabut otot mempunyai respon yang berbeda-beda terhadap latihan. Dengan alasan ini, maka beberapa ahli fisiologi olahraga membagi dan mengklasifikasikan struktur dan sifat-sifat fungsi antara serabut otot ST dan FT dan masing-masing dari mereka saling melengkapi.

 

  1. B. Sistem Metabolisme dan Latihan
    1. 1. Latihan harus spesifik

Setiap latihan yang diberikan kepada atlet harus berhubungan erat dengan cabang olahraganya, dan sekali-kali tidak dibenarkan memberikan latihan yang gerakanya berlawanan dengan gerakan cabang olahraganya. Sekalipun tujuan latihan tersebutuntuk memperbesar atau untuk memperkuat otot-otot tertentu,atau dengan kata lain perkataan “Latihan berbeban.”

  1. 2. Sistem energi

Bagaimana seseorang dapat mengetahui,sistem enrgi yang mana lebih dominan pada setiap kegiatan.Misalnya, latihan yang diberikan kepada atlet marathon, maka pelatih harus memberikan latihan rejim 5% untuk pengembangan sistem ATP-PC dan sistem LA (latic acid-asam laktat),sedangkan yang 95% dari waktu yang tersedia, harus digunakan untuk pengembangan sistem pernafasan. Juga pada sistem olah raga lainya,kita mengelompokkan sistem energi yang dipakai,seperti ATP-PC dan LA, LA-oksigen dan oksigen.

  1. 3. Prinsip Overload :Intensitas,Frekuensi dan Durasi

Prinsip overload secara progresif, berarti beban dalam mendekati maksimal dan secara bertahap terus meningkat sebagai akibatnya kapasitas seseorang semakin meningkat pula (Fox, E.L, dkk., 1989).

Selanjutnya juga dikatakan,bahwa prinsip latihan adalah peningkatan beban secara bertahap dan overload, dan untuk meningkatkan kekuatan otot, power, dan daya tahan harus dimulai paling sedikit 6-8 minggu sebelum kasa kopetisi, dan dilakukan dengan penekanan pada durasi dan intensitas. Kekhususan prinsip overload adalah meningkatkan hipertrofi oto, kekuatan, dayatahan, sebagai akibat dari meningkatnya intensitas kerja yang dilakukan yang diberikan per satuan waktu.

 

Intensitas latihan

Ini mungkin yang paling penting dari ketiga faktor didalam penerapan prinsip overload. Sebab intensitas latihan ini berhubungan langsung dengan peningkatan maksimal aerobik power (Fox, E.L, dkk., 1989)

Cara yang paling mudah untuk menentukan intensitas latihan adalah  dengan metode denyut nadi. Ini dapat dipergunakan sebagai indikator, berat atau ringannya suatu beben latihan, baik terhadap tubuh secara keseluruhan, maupun terhadap sistem kardiorespiratori.

Frekuensi dan Durasi

Memang ada benarnya juga suatu anggapan umum bahwa lebih sering dan lebih lama program latihan itu dilaksanakan akan memberikan pengaruh yang lebih besar terhadap kesegaran,  terutama untuk latihan daya tahan.Frekuensi latihan biasanya 5 hari per minggu untuk pelari jarak pendek(sprinter)dan 6-7 hari per minggu untuk atlet daya tahan. Walaupun demikian besarnya peningkatan tergantung kepada intensitas dan durasi latihan (Astrand, P.O.,1986),beban kerja dan durasi yang berat dapat meningkatkanh aktivitas enzim mitochondria (Gollnick, P.D. dkk.,1973), dan beban kerja yng lebih berat adalah kerja yang lebih dominan pada sistem anaerobik.

Menurut David R. Lamb (1984), dan Edward. L.Fox,dkk(1989) energi adalah kapasitas untuk melakukan pekerjaan atau kegiatan kerja/pekerjaan merupakan hasil perkalian dari tenaga dan jarak yang diperoleh. Karena itu energi dan pekerjaan tidak dapat dipisahkan.

Apabila suatu pekerjaan meningkat,energi yang diperlukan juga meningkat dengan kata lain ,energi yang diperlukan tergantung kegerakan molekul-molekul untuk membran sel,pembuatan potensial didalam membran sel,pembuatan gradasi(katabolisme) Molekul-molekul,seperti protein dan karbohidratserta yang paling penting dalam fisiologiolahraga,adalah gerakan dari filamen miosin seperti yang terjadi pada kontraksi otot. Energi yang dipergunakan untuk kegiatan biologis berasal dari simpanan energi dalm bahan-bahan kimia dari berbagai molekul. Apabila terjadi reaksi kimia yang menyebabkan pecahnya ikatan –ikatan bahan kimia,sejumlah energi dari ikatan-ikatan ini dikeluarkan sebagai panas,dan hanya membantu untuk menaikan atau mempertahankan temperatur tubuh; sedangkan sebagian lainya lagi dinamakan energi bebas,yang dapat dipergunakan untuk pekrjaan biologis.

Selama Latihan

Selama latihan, ATP dapat diproduksi, baik dengan melakukan latihan aerobik maupun anaerobik; tetapi bagaimanapun juga, tergantung kepada:

1)      Bentuk latihan yang digunakan

2)      Keadaan latihan ( training )

3)      Diet atlet

Bentuk latihan terbagi menjadi dua kategori, yakni:

  1. Latihan yang dilakukan dalam waktu yang singkat, tetapi memerlukan tindak usaha yang maksimal
  2. Latihan yang dilakukan dalam waktu yang relatif lama, tetapi dengan tindak usaha yang submaksimal.
  • Latihan dalam waktu yang singkat

Latihan-latihan yang termasuk pada kategori ini adalah lari cepat 100, 200 dan 400 meter. Pada jenis ini, bahan bakar yang terbesar berasal dari karbohidrat, lemak merupakan sebagian kecil saja dan protein diabaikan, karena sangat sedikit sekali sumbangannya terhadap energi yang dibutuhkan. Sistem energi yang dominan adalah anaerobik. Ini bukan berarti bahwa dalam kegiatan ini bukan hanya sistem anaerobik saja yang bekerja, tetapi energi atau ATP yang diperlukan tidak dapat disuplai melalui sistem aerobik saja. Sehingga sebagian besar ATP harus disuplai secara anaerobik melaui sistem fosfagen dan glikolisis anaerobik. Level kreatin fosfat, dengan kegiatan yang singkat tetapi dengan intensitas yang tinggi, menyebabkan turun sampai level yang rendah sekali dan tetap rendah sampai latihan dihentikan. Tetapi, kreatin fosfat dapat terisi dengan cepat pada saat pulih asal.

  • Latihan dalam waktu yang lama

Suatu latihan dapat dikatakan berlangsung dalam waktu yang relatif panjang, apabila dilakukan dalam waktu 10 menit atau lebih. Latihan semacam ini memerlukan bahan makanan sebagai bahan bakar, sebagian terbesar dari karbohidrat dan lemak. Apabila kegiatan tersebut berlangsung sampai 20menit ( seperti lari terus menerus – continous running ), umumnya karbohidrat merupakan sumber bahan bakar yang lebih dominan untuk resistensis ATP, sedangkan lemak peranannya relatif kecil.

 

  1. C. Sistem Respirasi

Istilah respirasi adalah pertukaran gas yang terjadi antara organisme tubuh dengan lingkungannya sekitarnya. Proses respirasi dapat dibagi menjadi tiga bagian, yakni pernafasan luar ( external respiration ), pernafasan dalam ( internal respiration ) dan pernafasan seluler ( cellular respiration ). Pernafasan luar, artinya oksigen dari udara luar masuk ke alveoli paru kemudian masuk ke darah. Pernafasan dalam, oksigen dari darah masuk ke jaringan-jaringan dan pernafasan seluler oksidasi biologis, maksudnya penggunaan oksigen oleh sel-sel tubuh yang kemudian menghasilkan energi, air dan karbondioksida. Karbondioksida bergerak dengan jalan berdifusi dari jaringan ke darah dan setelah diangkut ke paru, kemudian keluar ke udara luar. Proses pertukaran udara luar dengan udara di dalam paru dinamakan ventilasi paru.

Ventilasi Semenit

Ventilasi semenit adalah berapa banyak udara yang dihirup atau dihembuskan ( tidak kedua-duanya ) dalam waktu satu menit. Tetapi biasanya yang sering dipergunakan sebagai ukuran adalah udara yang dikeluarkan ( VE ) bukan jumlah udara yang dihirup ( VI ). Jumlah ini dapat ditentukan dengan mengetahui: 1)Volume tidal ( VT ), yaitu berapa banyak jumlah udara yang dihirup dan dikeluarkan setiap daur pernafasan dan 2) Frekuensi bernafas ( f ), yakni berapa kali bernafas dalam satu menit, sehingga dapat ditulis dengan persamaan sebagai berikut:

VE                       VT                          f

Ventilasi semenit = volume tidal x frekuensi bernafas

( 1 / menit )              ( liter )              ( per menit )

Pada waktu istirahat, frekuensi bernafas biasanya 12 kali per menit, sedangkan volume tidal rata-rata 0,5 liter udara per sekali bernafas. Dalam keadaan seperti ini, volume udara waktu bernafas dalam satu menit atau  ventilasi semenit adalah 6 liter.

Peningkatan yang berarti pada ventilasi semenit, disebabkan oleh semakin cepatnya atau semakin dalamnya bernafas atau karena oleh kedua-duanya. Selama melakukan latihan yang berat, frekuensi bernafas pada orang muda dan sehat, biasanya meningkat antara 35 – 45 kali per menit, sehingga volume tidal bisa mencapai 2,0 liter bahkan lebih. Sebagai akibatnya, dengan meningkatnya frekuensi bernafas dan volume tidal, maka ventilasi semenit dapat dengan mudah mencapai 100 liter atau sekitar 17 kali lebih besar daripada waktu istirahat. Pada atlet dayatahan ( laki-laki ) dalam kondisi yang baik, ventilasi semenit dapat mencapai 160 liter per menit selama melakukan latihan maksimal.

Ventilasi Alveolar dan Ruang Mati

Udara segar yang dapat masuk ke alveoli dinamakan ventilasi alveolar. Sedangkan udara yang tetap berada dalam lintasan pernafasan ( hidung, mulut, faring, laring, trachea, bronhi dan bronhioli ) dan tidak ikut dalam pertukaran gas dinamakan ruang mati anatomis. Selama melakukan latihan, terjadi pelebaran lintasan pernafasan, sehingga ruang mati anatomis menjadi lebih besar, tetapi karena volume tidal pada waktu latihan juga meningkat, ventilasi alveolar juga tetap memadai dan karena itu pertukaran gas tetap bisa dipertahankan.

Ventilasi alveola, tergantung kepada 3 faktor:

1)      Dalamnya waktu menarik nafas ( Volume tidal )

2)      Kecepatan waktu bernafas ( frekuensi )

3)      Ukuran ruang mati

Otot-otot ekspirasi

Kalau kita melakukan ekspirasi yang dangkal, diafragma dan otot eksternal intercostalis relaksasi dan keadaan ini memberi kesempatan kepada rongga dada untuk kembali ke ukuran asalnya. Dengan kata lain, ekspirasi yang demikian ini dinamakan ekspirasi pasif dan tergantung kepada otot ekspirasi. Hal ini disebabkan oleh karena selama inspirasi jaringan-jaringan elastis paru dan dinding rongga dada merenggan.

Selama melakukan latihan, ekspirasi biasanya aktif dan ini dipermudah oleh otot-otot ekspirasi dan dalam hal ini otot-otot abdominal merupakan yang terpenting. Kontraksi ini, disamping menegangkan punggung, juga menekan tulang rusuk bagian bawah dan tekanan di dalam abdomen / perut bertambah besar, mendorong diafragma ke atas ke arah rongga dada. Otot lainnya, yang juga sebagai otot ekspirasi adalah otot internal intercostalis.

 

  1. D. KARDIOVASKULER

Sistem kardiovaskuler membantu menyatukan tubuh sebagai suatu kesatuan dan sebagai alur nutrisi dan oksigen yang berlangsung terus menerus melalui aliran darah, sehingga energi yang diperlukan dalam periode waktu tertentu dapat dipertahankan. Sebaliknya, limbah metabolisme dengan cepat diangkut melalui sirkulsai dari tempat energi dikeluarkan.

Dalam pembahasan selanjutnya, akan dibahas proses sirkulasi, terutama peranannya didalam menyampaikan oksigen selama latihan dan akan menguji perbedaan dasar fungsi kardiovaskuler antara orang terlatih dengan orang yang tidak terlatih.

Daur Jantung

Daur jantung ( cardiac cycle ) meliputi terjadinya perubahan listrik dan mekanik ( perubahan tekanan dan volume ) yang terjadi selama fase kontraksi dan relaksasi miokradium. Fase kontraksi pada daur jantung yang terjadi pada artial dan ventrikel dinamakan sistole dan fase relaksasi dinamakan diastole. Pada saat jantung berada dalam keadaan benar-benar relak ( completely relaxed ) dinamakan diastasis. Oleh karena itu, daur jantung meliputi tiga fase, yaitu:

1)      Fase diastasis ( periode istirahat )

2)      Fase sistole ( periode kontraksi )

3)      Fase diastole ( periode relaksasi )

Curah Jantung selama latihan

Aliran darah meningkat secara proposional dengan meningkatnya intensitas latihan. Apabila melakukan latihan pada taraf 40 sampai 60% dari kapasitas maksimal, curah jantung pada orang yang terlatih bisa 30 liter per menit, bahkan curah jantung maksimal dapat mencapai 40 liter per menit ( Ekblom, B., dkk., 1986); sedangkan pada orang yang tidak terlatih , memiliki kemampuan kerja dan curah jantung maksimal yang lebih rendah, ( sekitar 20 – 25 liter per menit ). Karena isi sekuncup orang yang tidak terlatih sekitar 100 mililiter darah per denyut, sedangkan orang yang terlatih bisa mencapai 200 mililiter per denyut, sehingga:

curah jantung latihan                                 = denyut nadi x isi sekuncup

orang yang tidak terlatih 20.000ml           = 200 denyut / menit x 100ml

orang yang terlatih 40.000ml                    = 200 denyut / menit x 200ml

Pada umumnya bisa dikatakan mereka yang memiliki surah jantung maksimal yang lebih besar, maka maksimal oksigen powernya (VO2max) lebih besar, dan begitu juga sebaliknya.

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

 

 

B. Saran

 

The Rubric Theme. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: