Delite20's Blog

November 22, 2009

Penjual Arem-arem

Filed under: Rohani — delite20 @ 2:49 pm
Tags: , , , , ,

Tak perlu waktu lama untuk mencari bangku kosong dalam bus itu. Mungkin karena bus itu baru saja ‘sandar’ di terminal sehingga masih banyak tempat yang tersisa. Saya segera menempatkan diri di sebuah bangku di samping jendela. Pemandangan sepanjang jalan selalu berharga untuk dinikmati. Belum lama saya menyandarkan punggung dan sekedar menikmati bacaan di tangan saya, seisi bus dikejutkan oleh perkelahian yang disusul dengan arem-arem — penganan yang terbuat dari beras berisi sayur atau daging dan dibungkus dengan daun pisang — jatuh bergelindingan tepat di samping saya.

Lakon perkelahian itu ternyata dibintangi oleh dua penjaja makanan yang lazim menawarkan dagangannya pada penumpang bus sebelum kendaraan itu melaju. Beberapa menit sebelumnya, saya sempat sekilas melihat seorang bapak paruh baya menjunjung satu kardus yang penuh sesak dengan arem-arem itu melintas selasar bus dengan tangkas. Saya mengagumi kelincahannya bergerak dalam ruang yang amat terbatas, namun tak tergerak membeli penganan itu. Saya tidak terlalu suka mengkonsumsi nasi yang perlahan berubah manis di lidah sebelum akhirnya terasa masam setelah beberapa lama. Entah kapan, ternyata dari pintu belakang bus, masuk pula pedagang yang menawarkan produk sejenis. Maka, perebutan ‘pasar’ pun terjadi. Bapak yang masuk lewat pintu depan terkesan sabar– tidak sekalipun ia membalas serangan penjual satunya yang nampak berusia lebih muda. Tidak puas dengan kata-katanya, si penjual muda mendorong dagangan si bapak hingga bergelindinganlah dagangannya sebelum keluar begitu saja dari bus. Para penumpang bus yang simpati segera membantu memunguti arem-arem yang berserakan di lantai bus. Ada beberapa yang tergeletak dekat tempat saya duduk. Ketika saya membungkuk untuk meraih penganan itu, saya mendengar bapak itu berujar. Tidak ada yang bertanya ataupun yang berkomentar. Dia hanya bicara begitu saja. Saya menangkap ada getar samar dalam suara itu. Getar yang mencoba meredam kemarahan, kesedihan, atau entah emosi negatif apa. “Mboten nopo-nopo. Gusti Allah sing paring (Tidak mengapa. Tuhan yang memberi [rejeki]),” begitu kira-kira yang ditangkap telinga saya yang tidak fasih berbahasa Jawa. Getar samar di suaranya itu entah mengapa turut menggetarkan hati saya. Arem-arem yang ada di genggaman saya masih terasa hangat –pertanda bahwa mungkin belum banyak dagangan milik si bapak yang laku terjual.

Dengan insiden ini, mungkin pula keuntungan yang akan diterimanya akan berkurang karena beberapa buah arem-arem rusak, dan calon pembeli yang sudah melihat bahwa arem-arem itu sudah sempat menyentuh lantai bisa jadi urung membeli. Namun, Bapak itu tetap percaya bahwa Tuhan mencukupkan meskipun seluruh indikator menunjukkan sebaliknya. Saya menyerahkan arem-arem terakhir yang saya pungut pada Bapak itu. Rasanya hangat. “Matur nuwun (terima kasih),” demikian bapak itu berujar. Kali ini saya sempat memandang matanya. Sekejap, saya mengambil keputusan kilat. Saya menarik kembali arem-arem itu. “Pinten pak? (berapa harganya, Pak?)” “Setunggal ewu (seribu rupiah)” Saya membuka dompet dan mengeluarkan selembar uang seribuan, dan menyerahkan padanya. Saya tergoda untuk membeli beberapa buah lagi, namun khawatir tindakan saya akan menyampaikan pesan yang salah hingga menyinggung perasaannya. “Ibu aku mau yang kaya mbak itu,” seorang anak yang duduk tak jauh dari bangku saya merajuk dan ibu itu pun langsung saja membeli beberapa buah arem-arem. Menyusul beberapa penumpang lain yang ikut membeli. Dalam hitungan menit dagangan si bapak cukup banyak terjual. Si Bapak yang lemah lembut dan tidak membalas lawannya itu akhirnya mendapat upah yang setimpal. Dia benar, Tuhan selalu mampu mencukupkan — apa pun keadaannya. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: